Sekolah Alam Singkawang adalah sebuah pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran dengan konteks alam, budaya, dan kearifan lokal, untuk menanamkan karakter positif pada anak agar dapat hidup harmoni dengan dirinya sendiri, sesama, dan alam. Keseluruhan proses pembelajaran dilakukan dengan melibatkan partisipasi anak dan peran masyarakat.
Konsep belajar di Sekolah Alam Singkawang tidak terlepas dari dua hal yang saling keterkaitan antara satu sama lain, yaitu OLAH ISI dan OLAH SUASANA. Dua tindakan ini saling mendukung dan saling melebur untuk membetuk roh, energi, dan jasad dari Sekolah Alam Singkawang. Olah Isi berhubungan dengan pembelajaran SERU (Senang Efektif, Ramah, Unik). Olah Suasana upaya mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif dan mendukung pembelajaran. Dua tindakan inilah yang selalu berupaya dilakukan berkesinambungan. Salah satunya dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.

Susana lingkungan Sekolah Alam Singkawang memiliki fungsi edukasi dan rekreasi. Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sarana edukasi tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menggali informasi tentang apa saja yang ada di sekolah yang dihubungkan dengan kegiatan pembelajaran. Perlu upaya untuk mengolah suasana lingkungan sekolah di luar kelas agar memberikan fungsi yang optimal bagi anak-anak dan warga sekolah. Sehingga pembelajaran tidak membosankan dan langsung dengan keadaan nyata dan dekat dengan dunia anak.
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan saat ini masih pandemi Covid-19 adalah dengan Pertemuan Tatap Muka (PTM) Terbatas dan BDR. Anak-anak belajar tatap muka hanya kurang lebih 2 jam saja di sekolah. Selebihnya banyak di rumah. Untuk kegiatan PBM di luar kelas juga dibatasi dan banyak di dalam kelas. Tentunya suasana belajar seperti ini membosankan bagi anak. Menurut Victor Frankl (1975) seorang psikolog, menyatakan “keberhasilan sesorang menemukan makna dari objek yang dipelajarinya, adalah kondisi yang diharapkan. Tanda yang paling nyata dari ketiadaan makna adalah ‘kebosanan’. Anak-anak sudah terlihat jenuh kalau harus belajar di dalam kelas dan kurang menemukan makna dalam pembelajaran”. Pembelajaran yang bermakna adalah proses pembelajaran yang melibatkan anak secara langsung dan menggunakan konteks keseharian mereka. Dengan waktu dan kegiatan yang terbatas berupaya kegiatan pembelajaran di sekolah harus bermakna dengan outdoor learning memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Kegiatan outdoor learning adalah salah satu pembelajaran di luar kelas yang mendukung anak untuk belajar aktif, menggali potensi yang dimilikinya, dan belajar mandiri.

Pada hari Selasa, 16 November 2021 guru kelas VI mengajak anak-anak belajar di luar kelas. Memanfaatkan zona edukasi yang ada di sekolah yaitu kebun dan kolam. Anak-anak mengamati jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekolah. Ada kangkung, nangka, jeruk, terong, pepaya, murberry, lengkuas, dan banyak lagi. Mengidentifikasi bagian-bagian dan manfaat tumbuhan. Kemudian dilanjutkan dengan mempelajari cara perkembangbiakan tumbuhan. Anak-anak mengamati langsung cara perkembangbiakan jamur, pakis, kunyit, lengkus, papaya, dan tumbuhan lainnya yang ada di kebun. Dengan pembelajaran kontekstual ini anak-anak akan lebih mudah mempelajarinya bukan hanya sekedar teori. Setelah itu dilanjutkan pengamatan di kolam depan sekolah. Anak-anak mengamati langsung tumbuhan eceng gondok kemudian mengidentifikasi ciri khas dan manfaatnya. Menganalisis ekosistem yang ada di kolam yang terdapat eceng gondok, lumut, air jenih, kodok, lele, dan gabus.
Pembelajaran dilakukan bukan pada aspek pengetahuan saja tetapi juga keterampilan. Anak-anak juga langsung praktik menanam kangkung. Sebelum menyebar benih anak-anak terlebih dahulu melihat proses penggemburan tanah. Setelah itu anak-anak semua terlibat menanam biji-biji kangkung dengan terlebih dahulu membuat lubang yang sama di setiap baris supaya teratur tumbuhnya. Setelah itu baru memasukkan 3-5 biji untuk setiap lubang. Setelah itu lubang-lubang yang sudah terisi biji kangkung ditutupi dengan sedikit tanah yang gembur. Supaya biji-biji tersebut tidak dimakan ayam atau burung kemudian disiram. Setelah itu dilanjutkan panen kangkung bersama. Membuat kebun sekolah tidak perlu lahan yang luas dan kosong. Cukup memanfaatkan halaman di samping kelas untuk berkebun, atau bisa juga menggunakan polybag, atau pot dari barang bekas. Anak-anak sangat senang sekali bisa terlibat langsung dalam proses tersebut dan memberikan pengalaman belajar yang berharga dan bisa diterapkan di rumah masing-masing.

Belajar dengan siapa saja. Narasumber belajar pada hari itu adalah adalah Pak Nawan tukang kebun sekolah dan Bu Atih guru senior. Menurut Pak Nawan ‘’Cara menanam kangkung sangatlah mudah dan perawatannya juga tidak sulit. Cukup di siram jika tidak ada hujan dan diberi pupuk kandang. Dengan bibit kangkung 1 ons seharga Rp6.000,00. Dapat ditanam kurang lebih 5 batur. Hasil panennya dapat 20 ikat kangkung. Jika dijual dengan harga Rp3.000,00 setiap satu ikat maka akan menghasilkan Rp 60.000,00 dalam waktu 3-4 minggu’’. Tentunya ini dapat menjadi peluang untuk berusaha dengan memanfaatkan lingkungan sekolah atau sekitar rumah supaya bermanfaat untuk kebutuhan sehar-hari dan bernilai ekonomis.
Bu Atih selaku guru senior di sekolah menjelaskan tentang manfaat tumbuhan murberry. Tumbuhan ini paling banyak di sekolah dan paling disukai anak-anak. Berwarna keunguan jika sudah matang dengan rasa manis dan sedikit asam. Bu Atih mengatakan ‘’Manfaat buah murberry yang mengandung serat dan antioksidan baik untuk jantung, kesehatan mata, kekebalan tubuh, menurunkan berat badan, dan banyak lagi manfaat lainnya. difference entre viagra et spedra Sedangkan daunnya dapat menurunkan kadar gula darah dan mencegah kanker. Daunnya bisa dibuat sayur, urap, dan lalapan’’.

Guru kelas VI Sekolah Alam Singkawang Lizawati S.Pd. SD mengatakan bahwa ‘’Kegiatan pembelajaran outdoor learning dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Dalam kondisi saat ini lebih efektif. Dan yang paling penting adalah menumbuhkan karakter pada anak. Karakter selalu bersyukur atas nikmat Allah Swt, peduli lingkungan, saling bekerja sama, dan mandiri’’. Ini adalah salah satu upaya untuk mewujudkan merdeka belajar.
![]()





