Arnold Jacobus, S.Pd.SD., M.Pd.

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sesuai kodratnya. Melalui pendidikan, kita akan membentuk manusia yang memiliki kecerdasan, keterampilan dan budi pekerti yang baik. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan merupakan upaya persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya. Tujuan pendidikan menurut beliau yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dasar pendidikan itu adalah anak harus berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
Sesuai dengan filosofi dasar Ki Hadjar Dewantara, maka pendidikan itu harus disesuaikan dengan zaman dimana anak hidup. Di abad 21 ini, anak-anak harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang semakin pesat perubahannya, salah satu kemajuan teknologi dengan merebaknya digitalisasi di kehidupan kita. Dalam dunia pendidikan juga, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan tersebut, karena dunia pendidikan adalah tempat untuk menyiapkan anak dalam menjalani kehidupannya sekarang dan masa depan.
Teknologi ibarat dua mata pisau, bisa berdampak baik sekaligus berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Dampak positif dari teknologi bisa kita rasakan sekarang, kita bisa sangat mudah dalam berkomunikasi dan saling bertukar informasi, teknologi bisa mengefisiensi dan mengefektifkan pekerjaan, bahkan setelah adanya pendemi covid-19 ini, kita bisa menyelenggarakan pembelajaran secara jarak jauh (online/daring). Namun, teknologi juga memiliki sisi negatif, diantaranya bisa membuat candu terhadap gadget dan aplikasi-aplikasi yang ada di dalammnya. Sosialisasi antar manusia juga menjadi berkurang, sehingga ada anekdot mengatakan bahwa teknologi itu “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Dalam dunia pekerjaan juga berdampak pada pengangguran yang semakin banyak karena teknologi sudah mulai menggantikan tugas manusia.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas bagi siswa, harus bisa juga menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ketika siswa yang dibimbingnya adalah anak yang hidup di zaman milenial, maka guru harus bisa memanfaatkan teknologi, agar anak bisa lebih termotivasi untuk belajar, karena guru sudah bisa menghasilkan metode-metode mengajar baru yang lebih efektif. Penggunaan metode-metode mengajar yang baru, akan membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Guru yang bisa memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, bisa menyadarkan anak bahwa teknologi bisa juga mereka manfaatkan untuk keperluan belajar, karena selama ini teknologi seperti gadget, lebih banyak mereka gunakan hanya sebagai hiburan untuk bermain game.
Menjadi guru di abad 21 sangat berbeda dengan guru di abad 20-an. Di era digital ini, eksistensi guru tidak lagi dilihat dari kharismanya semata, lebih dari itu, guru sekarang dilihat dari bagaimana seorang guru mampu berkomunikasi dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Guru di era digital, dituntut mampu berinovasi dan berkreasi, karena sistem pembelajaran tahun 80-an sudah sulit untuk diterima oleh anak zaman sekarang. Siswa sekarang tidak lagi tidak lagi cocok dengan sistem pendidikan abad 20. Namun kenyataan yang ada, para guru masih belum bisa memahami hal ini. Banyak guru yang lambat sekali mengejar laju modernisasi pendidikan. Yang terjadi kemudian adalah siswa sudah mampu menerima informasi secara cepat dari berbagai sumber multimedia, sementara banyak guru acapkali memberikan informasi dengan lambat dan dari sumber-sumber terbatas. Para siswa suka melihat gambar, mendengarkan musik dan melihat video terlebih dahulu sebelum melihat teksnya, sementara guru memberikan teks terlebih dahulu.
Oleh karena itu, kondisi riil abad 21 ini akan menjadi hambatan dan tantangan tersendiri bagi guru. Sebab, guru yang datang dari zaman pra-digital akan kewalahan menghadapi siswa era digital. Untuk menghadapi permasalahan demikian, maka guru sekarang perlu menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh guru di zaman sekarang guna menghadapi era revolusi industri 4.0, diantaranya:
- Paradigma Diri
Paradigma atau pola pikir adalah bentuk mekanisme seseorang dalam memandang terhadap sesuatu, yang memengaruhinya dalam berpikir. Paradigma sangat penting karena itu menjadi dasar orang berpikir dan menentukan sikap apa yang akan dilakukan. Stephen Covey mengatakan “Kalau mau perubahan kecil dalam hidup, ubahlah perilaku. Tapi kalau menghendaki perubahan besar, ubahlah paradigma”. Dalam dunia pendidikan, maka harus ada perubahan paradigma dari insan pendidikan khususnya guru, karena guru adalah aktor utama pembelajaran bersama siswa. Perubahan paradigma konvensional menjadi paradigma profesional, perubahan paradigma pembelajaran abad 20 menjadi pembelajaran abad 21.

Guru harus menyadari bahwa perkembangan zaman telah memudahkan siswa untuk mencari ilmu dan informasi, sehingga peran guru sekarang bukan lagi sebagai penyampai informasi atau ilmu melainkan lebih lagi sebagai fasilitator dan katalisator untuk siswa bisa berpikir kritis dan analitis terkait informasi yang telah mereka dapatkan dengan mudah melalui internet.
Guru harus memahami bahwa pembelajaran abad 21 ini harus bisa menjadikan siswa memiliki kecakapan abad 21, dengan cara:
a. Critical Thinking and Problem Solving
Pada karakter ini, siswa berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem. Siswa juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasa-lahan yang dihadapinya dengan mandiri, siswa juga memiliki ke-mampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek.
Guru jangan risih atau merasa terganggu, ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi. Hal yang perlu dilakukan guru adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.
b. Creativity and Innovation
Pada karakter ini, siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasinya. Tentu kita ingat dengan Pak Tino Sidin, yang mengisi acara menggambar atau melukis di TVRI sekian tahun silam. Beliau selalu berkata “bagus” terhadap apapun kondisi hasil karya anak-anak didiknya. Hal tersebut perlu dicontoh oleh guru-guru masa kini agar siswa merasa dihargai.
Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Howard Gardner, bahwa manusia memiliki kecerdasan majemuk. Ada delapan jenis kecerdasan majemuk, yaitu; (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis.
c. Communication
Pada karakter ini, siswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Siswa diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari pendidiknya.
Abad 21 adalah abad digital. Komunikasi dilakukan melewati batas wilayah negara dengan menggunakan perangkat teknologi yang semakin canggih. Internet sangat membantu manusia dalam berkomunikasi. Saat ini, begitu banyak media sosial yang digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Melalui smartphone yang dimilikinya, dalam hitungan detik, manusia dapat dengan mudah terhubung ke seluruh dunia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami. Sedangkan Wikipedia dinyatakan bahwa komunikasi adalah “suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain”.
Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi memerlukan seni, harus tahu dengan siapa berkomunikasi, kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi, dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi bisa dilakukan baik secara lisan, tulisan, atau melalui simbol yang dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi dilakukan pada lingkungan yang beragam, mulai di rumah, sekolah, dan masyarakat. Komunikasi bisa menjadi sarana untuk semakin merekatkan hubungan antar manusia, tetapi sebaliknya bisa menjadi sumber masalah ketika terjadi miskomunikasi atau komunikasi kurang berjalan dengan baik. Penguasaan bahasa menjadi sangat penting dalam berkomunikasi. Komunikasi yang berjalan dengan baik tidak lepas dari adanya penguasaan bahasa yang baik antara komunikator dan komunikan.
Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antar sesama siswa. Ketika siswa merespon penjelasan guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau menyampaikan pendapat, hal tersebut adalah merupakan sebuah komunikasi.
d. Collaboration
Pada karakter ini, siswa menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif berbeda. Siswa juga menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat, menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan.
Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kolaborasi akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antar anggota.
Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, karena pada dasarnya manusia di samping sebagai seorang individu, juga makhluk sosial. Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skill. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang.
- Pengembangan Diri
Untuk melakukan penyesuian diri dengan perkembangan zaman, maka guru harus bisa melakukan pengembangan diri terkait keprofesionalan dirinya sebagai seorang pendidik. Guru adalah contoh pembelajar sepanjang hayat. Guru yang baik akan terus meng-upgrade kompetensinya menjadi lebih baik lagi. Jika siswa harus belajar, maka guru harus bisa memberi contoh terlebih dahulu.
Kegiatan pengembangan diri seorang guru bisa dilakukan secara mandiri maupun kolektif. Guru di zaman sekarang bisa belajar secara mandiri melalui buku, bertanya pada ahli maupun mencari literatur yang ada di internet. Sekarang Kemendikbud juga sudah mengeluarkan sebuat aplikasi yang bernama platform merdeka mengajar. Dalam platform itu sudah disediakan fitur untuk guru bisa belajar secara mandiri serta bisa berbagi praktik baik kepada guru-guru yang lain. Melalui aplikasi guru belajar dan berbagi, maka proses pengembangan diri guru bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja guru berada.


Pengembangan diri guru juga bisa dilakukan secara kolektif melalui KKG (Kelompok Kerja Guru) pada tingkat SD, dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) pada tingkat SMP. Guru bisa melaksanakan kegiatan tersebut di tingkat gugus, kecamatan, maupun skala kabupaten/kota. Selain melaksanakan KKG/MGMP, guru juga bisa mengikuti pelatihan, workshop, maupun webinar-webinar yang sudah banyak dilakukan sekarang.
- Refleksi Diri
Refleksi diri dapat diartikan pada upaya berpikir secara mendalam atas apa yang telah dilakukan. Guru yang melakukan refleksi adalah guru yang berpikir ulang tentang pembelajaran yang telah dilakukan. Seorang guru sebagai tenaga profesional, wajib untuk terus melakukan refleksi diri, terutama terhadap proses pembelajaran. Melalui proses refleksi pembelajaran, guru bisa membangun kesadaran diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.


Apakah pembelajaran yang telah dilakukan sudah sesuai dengan keterampilan mengajar, apakah pembelajaran itu sudah sesuai dengan perencanaan, apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai, apa kelemahan dan kekuatan yang dimiliki dalam proses pembelajaran, apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran berikutnya. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika kita akan melakukan refleksi diri.
Guru yang terus melakukan refleksi, akan terus menerus melakukan perbaikan pembelajaran. Karena dengan kesadaran diri, guru bisa memiliki informasi tentang apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan nanti. Guru yang menyadari akan apa yang telah dilakukan, akan berusaha melakukan inovasi dalam pembelajaran. Ketika guru mengalami permasalahan dalam pembelajaran, maka dia akan berusaha untuk memperbaiki pembelajaran itu. Proses perbaikan pembelajaran bisa juga dilakukan melalui sebuah penelitian tindakan kelas (PTK).

Itulah beberapa strategi yang bisa dilakukan seorang guru di era digital ini. Guru yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, akan bisa menjadi inspirator dan motivator bagi siswanya. Karena guru yang bisa menyesuaikan kemampuannya dengan perubahan zaman, akan mendekatkan dirinya dengan siswa yang lahir di zaman milenial ini. Guru yang bisa mengikuti perkembangan zaman adalah guru yang cerdas. Akhir kata, saya mengutip pernyataan salah satu ilmuwan modern Stephen Hawking yang mengatakan, “Kecerdasan adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan”.
![]()






Mantap tulisannya Pak. Suhu emang, Diksi yang yang digunakan sangat tepat👍👏🤝😁
Pada intinya, guru harus mebaharui diri dengan perkembangan zaman.
Semangat terus untuk guru-guru di SDN 94 Singkawang.
Terima kasih atas motivasinya Ibu Supervisor menulis