COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

admin

Oleh: Arnold Jacobus, S.Pd.SD., M.Pd.

Konsep  Coaching (Sumber Bahan Ajar Guru Penggerak Kemdikbudristek) Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”

Model Pendekatan lain yang mirip Coaching tapi bukan Coaching

Selain coaching, ada beberapa metode pengembangan diri yang lain yang bisa jadi sudah kita praktikan selama ini di sekolah yaitu mentoring, konseling, fasilitasi dan training.  Agar lebih memahami konsep coaching secara lebih mendalam, ada baiknya kita juga menyelami perbedaan peran coaching dengan metode-metode pengembangan diri tersebut. Untuk mengetahui perbedaan peran tersebut, mari kita simak terlebih dahulu definisi dari masing-masing metode pengembangan diri tersebut:

  1. Definisi mentoring

Stone (2002) mendefinisikan mentoring sebagai suatu proses dimana seorang teman, guru, pelindung, atau pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya. Sedangkan Zachary (2002) menjelaskan bahwa mentoring memindahkan pengetahuan tentang banyak hal, memfasilitasi perkembangan, mendorong pilihan yang bijak dan membantu mentee untuk membuat perubahan.

2. Definisi konseling

Gibson dan Mitchell (2003) menyatakan bahwa konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Sementara itu, Rogers (1942) dalam Hendrarno, dkk (2003:24), menyatakan bahwa konseling merupakan rangkaian-rangkaian kontak atau hubungan secara langsung dengan individu yang tujuannya memberikan bantuan dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.

3. Definisi Fasilitasi

Shwarz (1994) mendefinisikan fasilitasi sebagai sebuah proses dimana seseorang yang dapat diterima oleh seluruh anggota kelompok, secara substantif berdiri netral, dan tidak punya otoritas mengambil kebijakan, melakukan intervensi untuk membantu kelompok memperbaiki cara-cara mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai masalah, serta membuat keputusan, agar bisa meningkatkan efektivitas kelompok itu.

4. Definisi Training

Training menurut Noe, Hollenbeck, Gerhart & Wright (2003) merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.

Coaching dalam Pendidikan

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.

Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid. Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong) dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun). Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.

Dalam ruang kemerdekaan belajar, proses coaching juga merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak coach dan coachee. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat coachee melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga mendorong coachee berpikir secara kritis dan mendalam yang bermuara pada coachee dapat menemukan kekuatan diri dan potensinya untuk terus dikembangkan secara berkesinambungan atau menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat.

Pengembangan kekuatan dan potensi diri inilah yang menjadi tugas seorang coach (pendidik/pamong). Apakah pengembangan diri seorang coachee cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang coachee. Pengembangan diri baik seorang coach atau coachee dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. Coaching, sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya dari awal memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi diri sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Proses coaching yang berhasil akan menghasilkan kekuatan bagi coach dan coachee untuk mengembangkan diri secara berkesinambungan.

3 Prinsip Coaching

  1. Kemitraan : Coach dan Coachee Sejajar dan mitra setara. Sehingga tidak ada rasa menggurui atau digurui. (dengan rasa saling percaya dan rendah hati)
  2. Proses Kreatif : Memicu proses berpikir coachee (berpusat kepada Coachee bagaimana memetakan dan mendapatkan ide-ide baru)
  3. Menggali Potensi : Memaksimalkan potensi dan memberdayakan teman sejawat / coachee, percakapan diakhiri dengan rencana tindak lanjut dan kesimpulan yang dinyatakan oleh Coachee

Paradigma Coaching :

  • Fokus pada coachee yang akan dikembangkan
  • Bersikap terbuka dan ingin tahu
  • Memiliki kesadaran diri yang kuat
  • Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Jenis-jenis Percakapan dalam  Coaching

1. Percakapan untuk perencanaan mungkin terjadi sebelum coachee (teman
sejawat) akan memulai/ terlibat dalam suatu kegiatan atau melakukan suatu
tugas. Selain itu percakapan untuk perencanaan bisa dilakukan sebelum memulai
pendampingan kepada rekan sejawat. Pendampingan bersifat suatu
pengembangan jangka pendek. Tujuan dari percakapan ini adalah merencanakan
apa yang ingin dikembangkan coachee

2. Percakapan untuk pemecahan masalah biasanya terjadi saat coachee
menghadapi masalah, merasa buntu, merasa tidak jelas, merasa tidak berdaya,
merasa tidak mampu, mengalami krisis, dan membutuhkan bantuan dari luar

3. Percakapan untuk berefleksi terjadi setelah ada aktivitas yang dilakukan oleh
coachee atau setelah coachee menyelesaikan tugas, dan saat coachee sedang ingin
merefleksikan diri

4. Percakapan untuk kalibrasi terjadi saat coachee ingin melakukan swanilai
kinerja/perkembangannya terhadap suatu standar/kriteria dan saat perlu
melakukan penyesuaian ulang atas rencana terhadap standar/kriteria tersebut.

Coaching dengan menggunakan tahapan alur TIRTA

TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati
tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee)
Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach)
dan yang dapat ditanyakan kepada coachee diantaranya:
a. Apa rencana pertemuan ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?
Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin
diraih coachee.

2. Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang
dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)
Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini diantaranya adalah:
a. Kesempatan apa yang Bapak/Ibu miliki sekarang?
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana posisi Bapak/Ibu sekarang dalam pencapaian
tujuan Anda?
c. Apa kekuatan Bapak/Ibu dalam mencapai tujuan tersebut?
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa Bapak/Ibu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi Bapak/Ibu dalam meraih
tujuan?
f. Apa solusinya?

3. Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan
dibuat)
a. Apa rencana Ibu/bapak dalam mencapai tujuan?b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi Bapak/Ibu?
f. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengantisipasi gangguan?

4. TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah
selanjutnya)
a. Apa komitmen Bapak/Ibu terhadap rencana aksi?
b. Siapa dan apa yang dapat membantu Bapak/Ibu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?

Alur TIRTA akan berjalan lancar jika Coach memiliki kompetensi inti Coaching yaitu : Kehadiran Penuh (Presence), Mendengar Aktif dengan tidak berasumsi, tidak melabeling dan tidak berasosiasi,  lalu selanjutnya yaitu Mengajukan pertanyaan berbobot dan mendengarkan dengan RASA ( yang merupakan akronim dari Receive/menerima, Appreciate/mengapresiasi, Summarize/merangkum, dan Ask/bertanya.

Supervisi Akademik dengan Paradigma berpikir Coaching

Dalam setiap interaksi keseharian di sekolah, seorang pemimpin pembelajaran
dan sekolah perlu menghidupi paradigma berpikir yang memberdayakan bagi setiap
warga sekolah dan melihat kekuatan-kekuatan yang ada dalam komunitasnya. Melalui
supervisi akademik potensi setiap guru dapat dioptimalisasi sesuai dengan kebutuhan
yang nantinya dapat membantu para guru dalam proses peningkatan kompetensi dengan
menerapkan kegiatan pembelajaran baru yang dimodifikasi dari sebelumnya. Dan salah
satu strategi yang dapat dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui
percakapan coaching dalam keseluruhan rangkaian supervisi akademik.
Beberapa prinsip-prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir
coaching meliputi:
1. Kemitraan: proses kolaboratif antara supervisor dan guru
2. Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi individu
3. Terencana
4. Reflektif
5. Objektif: data/informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati
6. Berkesinambungan
7. Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik Pada umumnya pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan
tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan
supervisi, dan tindak lanjut. Pada tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan,
melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model,
menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

REFLEKSI

Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?

Peran saya sebagai seorang coach adalah menuntun murid dan menggali potensinya agar timbul ide-ide kreatif sesuai minat dan impiannnya. Dan mendengarkan serta mendorong murid memetakan dan memecahkan masalahnya dalam mencapai cita-citanya yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Dalam Pembelajaran berdiferensiasi saya melakukan coaching kepada murid satu persatu sehingga mendengar dan mengetahui kebutuhan masing-masing murid, perbedaan minat dan gaya belajar mereka sehingga dapat mengetahui sejauh mana kesiapan belajar masing-masing murid.

Dan proses pembelajaran dapat dilakukan dengan berdiferensiasi yaitu memenuhi kebutuhan murid, antara lain dengan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi proses.  Dimana murid pada saat menggali informasi bebas menggunakan ragam sumber informasi seperti internet, gadget, infografis, artikel, grafik, gambar, Televisi, Koran, Buku  dan lainnya. Dan pada saat proses pembelajaran dapat melakukan melalui daring, luring, diskusi, menggambar , endengar, sesuai gaya belajar mereka.  Juga diferensiasi produk. Hasil belajar mereka dapat berupa video, infografis, gambar, artikel, laporan atau , lembar presentasi atau voice presentation.

Dalam Pembelajaran Sosial Emosional  metode Coaching dengan sebelumnya melakukan metode PSE seperti pernafasan seperti STOP sangat membantu untuk fokus dan presensce/ kehadiran penuh sehingga proses pembelajaran yang meliputi kesadaran diri, manajemen diri, pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, kesadaran sosial dan kemampuan berelasi akan berjalan dengan lancar. dengan PSE maka Coach dan Coachee/murid akan saling menghargai, dapat hadir sepenuhnya, saling mendengarkan dan penuh empati.

Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran?

Keterampilan Coaching dibutuhkan oleh pemimpin pembelajaran saat melakukan supervisi akademik, dimana sebagai pemimpin pembelajaran Coach dengan kompetensi coachingnya akan bersikap setara dengan guru/coachee dan tidak menggurui saat supervisi dan memfokuskan bahwa proses pembelajaran berpihak kepada murid, dan menggali potensi guru-guru yang dipimpinnya dengan melakukan pra supervisi, Proses Supervisi dengan alur TIRTA dan Paska Supervisi. Melalui supervisi akademik berbasis coaching, saya bisa membangun hubungan yang baik dan harmonis dengan rekan-rekan guru.

Semoga saya bisa menerapkan prinsip coaching ini dalam peran saya sebagai seorang kepala sekolah.

Daftar Pustaka : Sumber belajar Modul Guru Penggerak Kemdikbudristek @2021-2022

Loading

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.