Oleh: Arnold Jacobus, M.Pd.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Literasi berhubungan dengan kata berbahasa. Ada beberapa ahli yang mendefinisikan istilah literasi, menurut Elizabeth Sulzby (1986), Literasi adalah kemampuan seseorang dalam berbahasa dan berkomunikasi. Dimana orang tersebut tidak hanya memiliki kemampuan membaca saja. Tetapi juga memiliki kemampuan menyimak, berbicara serta menulis. Menurut Harvey J. Graff (2006), Literasi ialah suatu kemampuan dalam diri seseorang untuk menulis dan membaca. Menurut kamus online Merriam – Webster, Literasi ialah suatu kemampuan atau kualitas melek aksara di dalam diri seseorang dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual. Menurut UNESCO “The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization”, Literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, terutama ketrampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana ketrampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian literasi secara sederhana yaitu kemampuan membaca dan menulis.
Kemampuan membaca dan menulis sangat penting dalam kehidupan manusia. Literasi adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Dunia pendidikan (sekolah) sangat erat kaitannya dengan kemampuan literasi, seorang pembelajar harus bisa menerapkan literasi dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Membaca yang merupakan salah satu kemampuan literasi, sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena dengan membaca, siswa dapat memperoleh berbagai sumber informasi (ilmu pengetahuan). Literasi yang baik dapat mengasah kemampuan untuk bisa menjadi orang yang berpikir kritis, kreatif dan inovatif serta menumbuhkan budi pekerti yang baik. Kemampuan literasi juga dapat mendorong siswa untuk bisa memahami informasi secara reflektif, analitis dan kritis.
Permasalahan literasi, hampir di semua sekolah itu sama, yaitu minimnya minat baca siswa. Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya minat baca siswa, diantaranya kurangnya kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga (rumah), akses ke fasilitas membaca yang masih minim baik itu tempat membaca ataupun ketersediaan bahan bacaan yang masih sedikit, perkembangan teknologi yang juga menyebabkan perubahan pola hidup sehingga anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gawai atau internet ketimbang untuk membaca buku. Keteladanan guru dalam membaca juga menjadi salah satu penyebab rendahnya minat baca siswa. Guru kurang menunjukkan sikap gemar membaca kepada siswa sehingga tidak muncul motivasi dalam diri siswa untuk bisa gemar membaca.
Sekarang pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sedang menggalakkan suatu gerakan yang terkait dengan kemampuan literasi yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan gerakan literasi yang aktivitasnya banyak dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua dengan menampilkan praktik baik tentang literasi dan menjadikannya sebagai kebiasaan serta budaya di lingkungan sekolah. Dengan adanya Gerakan Literasi Sekolah sehingga bisa menumbuhkembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi agar mereka bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tujuan itu yang akan dicapai dengan adanya Gerakan Literasi Sekolah yaitu pembelajar sepanjang hayat, yang sekarang masih sedikit dimiliki oleh masyarakat. Sikap literat adalah pondasi awal untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena kegiatan literasi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi atau ilmu pengetahuan.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan sikap literasi di sekolah melalui Gerakan Literasi Sekolah, sebagai berikut:
1. Kegiatan wajib kunjungan ke perpustakaan

Kunjungan ke perpustakaan adalah salah satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk memancing minat baca dalam diri siswa. Hendaknya sekolah bisa membuat program wajib kunjungan ke perpustakaan. Pembuatan jadwal kunjungan yang dilakukan secara bergantian untuk tiap kelas akan sedikit memaksa siswa untuk mengunjungi perpustakaan yang ada di sekolah. Dalam hal ini, kerjasama guru dengan petugas perpustakaan sangat dibutuhkan. Guru dan petugas perpustakkan bisa berkoordinasi terkait waktu dan teknis dalam kunjungan tersebut. Selain kunjungan ke perpustakaan sekolah, kegiatan ini juga bisa dilakukan untuk perpustakaan di luar sekolah, misalnya taman bacaan masyarakat (TBM), perpustakaan desa, atau perpustakaan daerah yang ada di Kabupaten/Kota tempat siswa itu tinggal. Ini dilakukan agar siswa bisa menyadari bahwa tempat untuk mereka membaca itu sangat banyak tersedia di lingkungan sekitar mereka. Selain itu, kunjungan ke perpustakaan di luar sekolah bisa sebagai sarana studi wisata bagi mereka agar tidak bosan belajar di sekolah terus.
2. Pembuatan mading kelas/sekolah setiap minggu atau bulan.

Majalah dinding atau biasa disingkat mading juga sangat baik dalam memupuk semangat literasi dalam diri siswa. Berikut manfaat mading bagi siswa, yaitu:
- Sebagai sarana informasi.
- Sebagai media hiburan.
- Sarana untuk menjaga kekeluargaan dari anggota kelompok tertentu.
- Meningkatkan kreativitas penulis dan pembaca.
- Menciptakan sikap kritis terhadap masalah yang ditemukan, terutama masalah seputar proses belajar mengajar di sekolah.
- Meningkatkan wawasan akan keadaan sekolah yang dapat berguna bagi siswa baru.
- Menumbuhkan kebiasaan membaca.
3. Membaca buku non pelajaran sebelum dimulai pembelajaran.

Kegiatan ini bisa menjadi kegiatan rutin setiap pagi yang dilakukan selama kurang lebih 15 menit, bisa membaca secara nyaring, membaca mandiri, membaca bersama, atau membaca terpandu. Buku dibaca adalah buku nonteks selain buku pelajaran yang bisa dipinjam di perpustakaan sekolah atau bisa dibawa dari rumah oleh siswa. Kegiatan dilakukan bersama guru dengan situasi yang menyenangkan bagi siswa dan dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas.
4. Membuat pohon literasi
Pohon literasi adalah semacam gambar pohon yang daun-daunnya berisi judul buku atau materi yang telah dibaca oleh siswa. Ketika siswa sudah membaca sebuah buku atau materi, mereka diminta untuk menempelkan daun-daun yang sudah berisi judul buku atau materi tersebut ke ranting pohon.
Tujuan pohon literasi adalah untuk membangun kreativitas siswa yang meliputi daya pikir dan daya cipta serta memotivasi siswa untuk selalu membaca sehingga membaca menjadi kebiasaan dalam kesehari-hari. Pohon literasi dipilih karna sangat sederhana mudah untuk diterapkan. Pohon literasi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa. Secara lebih rinci, pohon literasi bermanfaat bagi siswa, seperti meningkatkan kosakata yang dimiliki oleh siswa, meningkatkan kemampuan otak, menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, melatih ketajaman siswa dalam menangkap suatu informasi, melatih kemampuan siswa dalam berpikir kritis, meningkatkan konsentrasi siswa, serta melatih siswa untuk bisa menulis dan merangkai kata.
5. Kegiatan menghafal kosa kata baru dan menuliskannya dalam bentuk kalimat.
Kegiatan ini bisa dilakukan dengan terlebih dahulu siswa diminta mencari kosa kata baru yang terdapat dalam buku maupun yang pernah mereka dengan melalui percakapan sehari-hari, Ketika menonton TV, maupun ketika mereka mengakses internet. Kosa kata baru juga bisa mereka dapatkan di dalam kamus, baik itu kamus Bahasa Inggris atau kamus Bahasa Indonesia.
Setelah mereka menemukan kosa kata baru, mereka diminta untuk mencari arti atau makna dari kosa kata tersebut. Pemahaman terhadap kosa kata baru akan memudahkan siswa Ketika akan membuat sebuah kalimat menggunakan kosa kata baru tersebut.
6. Mengadakan perlombaan karya literasi setiap satu semester.
Sekolah bisa mengadakan suatu lomba atau kegiatan dalam mengapresiasi dan mendorong semangat literasi bagi siswa. Festival Literasi Siswa (Felsi) dilakukan melalui pameran karya literasi dan lomba-lomba yang terkait dengan sastra, seperti: lomba menulis cerita pendek, baca puisi, cipta pantun, cipta syair, dan lomba mendongeng. Tujuan dari Felsi ini sebagai sarana menumbuhkan budaya literasi di sekolah serta menyalurkan bakat dan minat anak di bidang sastra.
7. Membuat perpustakaan mini / Pojok Literasi di dalam kelas beserta spot membaca nyaman.

Pojok baca atau pojok literasi bisa dibuat di sudut kelas dan ditata dengan baik dan rapi, sehingga siswa bisa merasa nyaman berada di situ. Sediakan rak untuk menyimpan buku-buku, serta tempat duduk bisa berupa kursi atau bisa juga duduk di lantai dengan dialasi karpet atau tikar. Pojok literasi dihias sedemikian rupa, agar terkesan bisa menjadi tempat yang rileks untuk siswa.
![]()






